Nisfu Syaban: Refleksi Spiritual dan Identitas Linguistik
Oleh: Dr. Diana Anggraeni, M.Hum.
Nisfu Syaban, malam pertengahan bulan Syaban, merupakan salah satu momen penting dalam kalender Islam. Pada malam ini, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam sekaligus melakukan refleksi spiritual. Namun, tahukah Anda bahwa Nisfu Syaban juga memiliki keterkaitan dengan kajian sosiolinguistik?
Sosiolinguistik, sebagai cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, dapat membantu memahami bagaimana peringatan Nisfu Syaban memengaruhi identitas linguistik umat Islam. Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam kerap menggunakan bahasa Arab dalam doa dan zikir, meskipun bahasa tersebut bukan bahasa ibu mereka (Fishman, 1972). Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Arab berfungsi sebagai simbol identitas keislaman dan spiritualitas.
Selain itu, Nisfu Syaban juga memengaruhi pola penggunaan bahasa dalam komunitas Muslim. Pada malam ini, umat Islam cenderung menggunakan bahasa yang lebih formal dan santun dalam berkomunikasi sebagai bentuk penghormatan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW (Gumperz, 1982). Hal ini mencerminkan adanya perubahan norma linguistik yang dipengaruhi oleh konteks religius.
Dalam konteks Indonesia, peringatan Nisfu Syaban turut memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia. Banyak umat Islam di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam doa dan zikir, namun dengan sisipan dan pengaruh kosakata Arab yang kuat (Dhofier, 1999). Kondisi ini menunjukkan adanya perpaduan bahasa yang membentuk identitas linguistik khas umat Islam Indonesia.
Sebagai kesimpulan, Nisfu Syaban tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosiolinguistik. Melalui praktik kebahasaan pada malam tersebut, umat Islam merefleksikan identitas linguistik mereka dan menjadikan bahasa sebagai simbol spiritualitas serta identitas keislaman.












