http://porosmetro.com | Olilit Barat – Senin pagi, 19 Januari 2026, rintik hujan membasahi Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Langit tampak muram, udara dingin menyelimuti kampung. Namun suasana berbeda justru terasa di dalam Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY).
Di balik bangku-bangku gereja, delapan pasang kaki kecil melangkah dengan penuh keyakinan. Mereka bukan datang untuk berlindung dari hujan, melainkan untuk melayani Tuhan di altar-Nya yang kudus.
Pagi itu, Misa pagi dipimpin langsung oleh Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, dalam rangka Novena Santo Antonius.
Kehadiran delapan anak sebagai misdinar, lektor, dan pemazmur menjadi pemandangan yang sederhana, namun sarat makna.
Teladan Kesetiaan Sejak Dini
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, kehadiran delapan anak tersebut bukan sekadar rutinitas liturgi. Di tengah cuaca yang tidak bersahabat, mereka justru menghadirkan pelajaran iman yang mendalam bagi seluruh umat.
“Kesetiaan kepada Tuhan tidak menunggu usia dewasa. Hari ini, anak-anak ini mengajarkan kita bahwa hujan bukan penghalang bagi hati yang mau melayani,” ujar RD Ponsianus Ongirwalu dalam refleksinya.
Saat sebagian orang memilih kehangatan selimut, delapan anak ini memilih berdiri di altar. Sebuah pilihan kecil yang berdampak besar—bahwa iman sejati diuji justru dalam keadaan yang tidak nyaman.
Kalender Liturgi, Peta Jalan Iman
Sebagai bentuk apresiasi, Pastor Paroki memberikan Kalender Liturgi Gereja kepada delapan anak tersebut. Bukan sekadar hadiah simbolis, kalender itu dimaknai sebagai bekal perjalanan iman.
“Kalender ini bukan hanya untuk mengingat tanggal, tetapi untuk menolong kalian hidup bersama ritme Gereja sepanjang tahun, berjalan bersama Kristus dari masa ke masa,” kata RD Ponsianus Ongirwalu.
Dari masa Advent, Natal, Prapaskah, hingga Paskah dan Masa Biasa, kalender liturgi menjadi pengingat bahwa hidup orang beriman adalah perjalanan yang terus bertumbuh dalam kasih dan pengharapan.
Sinergi yang Menghidupkan Iman Anak
Kesetiaan delapan anak ini tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ada sinergi kuat dari berbagai pihak yang menopang langkah kecil mereka.
Pertama, Pastor Paroki, sebagai bapak rohani yang melihat dan menghargai pelayanan anak-anak. Dukungan terhadap pendidikan dan kehidupan rohani mereka menjadi bukti bahwa Gereja tidak hanya membina altar, tetapi juga masa depan.
Kedua, orang tua, yang setia membangunkan anak-anak di pagi hari, menyiapkan perlengkapan, bahkan rela berbasah-basah demi memastikan buah hati mereka tiba di gereja.
Ketiga, umat Paroki HKY Olilit Barat, yang dengan doa dan senyuman sederhana memberi keberanian bagi anak-anak untuk tampil dan melayani.
Pesan untuk Delapan Anak Hebat
Menutup Misa pagi itu, RD Ponsianus Ongirwalu menyampaikan pesan yang menyentuh hati, bukan hanya bagi delapan anak, tetapi juga seluruh umat yang hadir.
“Teruslah menjadi terang kecil di Olilit Barat. Hujan pagi ini mungkin membasuh kakimu, tetapi kasih Tuhan telah lebih dahulu membasuh jiwamu. Jadikan kalender liturgi itu sebagai panduan, agar setiap hari dalam hidupmu menjadi persembahan bagi Tuhan,” tuturnya.
Di tengah rintik hujan Olilit Barat, delapan anak itu pulang dengan langkah ringan.
Mereka membawa lebih dari sekadar kalender, mereka membawa teladan kesetiaan yang akan terus berbicara, bahkan saat hujan telah reda.(jk)












