Uncategorized

Dari Batako untuk Rumah Tuhan, Ikhtiar Kemandirian Panitia Pembangunan GBI Milos Saumlaki

×

Dari Batako untuk Rumah Tuhan, Ikhtiar Kemandirian Panitia Pembangunan GBI Milos Saumlaki

Sebarkan artikel ini

Penulis: Johanis Kopong

www.porosmetro.com | Saumlaki, Senin, 27 Juli 2026 – Di sebuah lokasi sederhana di Kota Saumlaki, suara aktivitas pembuatan batako terdengar silih berganti. Tumpukan batako yang tersusun rapi menjadi saksi semangat gotong royong Panitia Pembangunan Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Milos Saumlaki dalam mewujudkan rumah ibadah melalui usaha mandiri.

Alih-alih hanya mengandalkan sumbangan, panitia memilih membangun kemandirian ekonomi dengan memproduksi dan menjual batako kepada masyarakat. Setiap batako yang dicetak bukan sekadar material bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menggalang dana pembangunan gereja.

Berdasarkan pantauan di lokasi, proses produksi dilakukan secara bertahap. Batako yang telah selesai dicetak disusun dengan rapi untuk menjalani proses pengeringan sebelum dipasarkan. Di sela aktivitas tersebut, sejumlah anggota panitia terlihat saling berbagi tugas, mulai dari pencetakan hingga penataan hasil produksi.

Melalui spanduk promosi yang dipasang, panitia menawarkan batako dengan harga Rp3.000 per buah. Selain menonjolkan kualitas produk yang kuat, rapi, dan presisi, hasil penjualannya juga ditujukan untuk mendukung pembangunan Gedung GBI Milos Saumlaki.

Semangat kebersamaan tampak mewarnai seluruh proses. Beberapa anggota panitia dan jemaat yang hadir terlihat berdiskusi sambil meninjau hasil produksi. Bagi mereka, setiap batako yang terjual menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun rumah ibadah yang diharapkan dapat digunakan untuk melayani jemaat di masa mendatang.

Salah seorang warga yang datang melihat lokasi produksi, Yohanes Lewer, mengaku mengapresiasi langkah panitia yang memilih membangun kemandirian melalui usaha produktif.

“Menurut saya ini langkah yang baik. Selain menghasilkan batako yang bisa dimanfaatkan masyarakat, hasil penjualannya juga dipakai untuk mendukung pembangunan gereja. Semangat seperti ini patut didukung bersama,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan Maria Bernard, warga Saumlaki, yang menilai usaha tersebut mencerminkan nilai gotong royong.

“Kalau masyarakat membeli batako di sini, bukan hanya mendapatkan bahan bangunan, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan rumah ibadah. Saya berharap usaha ini terus berkembang,” katanya.

Di tengah tantangan pembangunan yang membutuhkan biaya besar, inisiatif memproduksi batako menjadi gambaran bahwa semangat kebersamaan dapat diwujudkan melalui kerja nyata. Setiap hasil produksi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol partisipasi jemaat dan masyarakat dalam mendukung pembangunan gereja.

Hingga berita ini disusun, tulisan ini merupakan hasil observasi lapangan dan dokumentasi kegiatan di lokasi produksi batako Panitia Pembangunan GBI Milos Saumlaki.

Untuk memperoleh informasi lebih rinci mengenai target produksi, penggunaan hasil penjualan, serta perkembangan pembangunan gedung gereja, media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Ketua Panitia Pembangunan GBI Milos Saumlaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *