https://porosmetro.com | Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Senin, 27 Juli 2026 – Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pilihan.
Di setiap perjalanan hidup, setiap orang dihadapkan pada dua jalan yang berbeda: memilih hidup dalam kebaikan atau membiarkan diri dikuasai oleh kejahatan.
Namun, di balik setiap pilihan itu, ada satu kepastian yang tidak pernah berubah, yakni Allah yang melihat, mengetahui, dan menghakimi setiap manusia dengan adil.
Pesan itulah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, dalam refleksi Injil Matius 13:36-43 tentang perumpamaan gandum dan lalang.
Gandum dan Lalang Hidup Berdampingan
Pastor Pius mengajak umat merenungkan kenyataan hidup bahwa kebaikan dan kejahatan selalu hadir berdampingan. Seperti gandum dan lalang yang tumbuh di ladang yang sama, demikian pula orang baik dan orang jahat hidup dalam dunia yang sama.
Namun, Allah tidak serta-merta menghukum orang yang berbuat jahat. Sebaliknya, kasih-Nya memberikan kesempatan agar setiap orang menyadari kesalahannya dan bertobat.
“Seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Dalam menjalani hidup, setiap orang diperhadapkan pada pilihan; menjadi orang baik atau jahat. Di dunia ini gandum, yaitu orang baik, hidup berdampingan dengan lalang, yaitu orang jahat. Tuhan selalu memberi kesempatan bagi orang jahat untuk sadar dan bertobat,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.
Keadilan Allah Tidak Pernah Keliru
Refleksi tersebut juga mengingatkan bahwa keadilan Allah bukanlah sesuatu yang tertunda tanpa kepastian. Menurut Pastor Pius, pada waktunya Allah akan menyatakan keadilan-Nya secara sempurna.
Ia menjelaskan bahwa pada akhir zaman, para malaikat akan memisahkan mereka yang setia hidup dalam kebenaran dari mereka yang memilih jalan kejahatan.
“Tuhan menunjukkan keadilan saat akhir zaman. Malaikat akan memisahkan orang baik, tempatnya di surga, dan orang jahat tempatnya di neraka. Tuhan tidak buta,” tegasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pandangan Allah. Kebaikan yang dilakukan dalam kesunyian maupun kejahatan yang tersembunyi tetap berada dalam pengetahuan-Nya.
Bukan Menghakimi, Melainkan Menjadi Cahaya
Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Pastor Pius mengajak umat untuk tidak mengambil peran sebagai hakim atas sesama. Menghakimi, memfitnah, atau memecah belah persaudaraan bukanlah panggilan orang beriman.
Sebaliknya, setiap orang dipanggil menjadi terang yang menghadirkan kasih, menunjukkan jalan yang benar, dan membawa damai di tengah kehidupan bersama.
“Ingat, tugas kita bukan mencabut lalang: menghakimi, memfitnah, memecah belah kebersamaan, tetapi menjadi cahaya, menunjukkan jalan benar dan menjadi berkat bagi sesama. Jadilah orang baik dalam hidup bersama,” pesan Pastor Pius.
Menjadi Berkat dalam Kehidupan Sehari-hari
Refleksi Injil ini mengajak umat untuk tidak terjebak dalam keinginan menghakimi orang lain, melainkan lebih dahulu membangun hidup yang berakar pada kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.
Menjadi “gandum” di tengah dunia bukanlah tentang merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan tentang kesediaan hidup dalam kebenaran, menjadi teladan melalui tindakan nyata, serta menghadirkan damai bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Pada akhirnya, setiap orang akan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. Karena itu, Pastor Pius mengajak seluruh umat untuk terus memilih jalan kebaikan, sebab Allah yang penuh kasih juga adalah Hakim yang adil, yang melihat setiap perbuatan manusia dan memberikan ganjaran sesuai dengan kehidupan yang dijalaninya. Editor: Joko
Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC












