http://porosmetro.com | Saumlaki – Refleksi pastoral yang disampaikan RD Ponsianus Ongirwalu, selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, menghadirkan pesan yang kuat mengenai arah pelayanan Gereja Katolik di tengah dinamika kehidupan masyarakat Tanimbar.
Melalui refleksi bertajuk “Jawaban atas Pertanyaan Refleksi” yang disampaikan pada Selasa, 7 Juli 2026, ia mengajak seluruh pelayan Gereja untuk membangun pelayanan yang berakar pada kehadiran nyata, bukan semata-mata pada jabatan dan struktur.
Berangkat dari inspirasi pelayanan mendiang Romo Y.B. Mangunwijaya di kawasan Kali Code, Yogyakarta, RD Ponsianus mengontekstualisasikan semangat tersebut ke dalam kehidupan umat di Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Menurutnya, “Kali Code” di Tanimbar bukanlah sebuah tempat, melainkan simbol kelompok masyarakat yang rentan, tersisih, namun memiliki martabat dan potensi besar untuk berkembang apabila memperoleh perhatian yang sungguh-sungguh.
Kelompok itu, kata dia, meliputi nelayan kecil yang hidup dalam ketidakpastian akibat cuaca dan keterbatasan sarana, keluarga yang menghadapi persoalan sosial akibat penyalahgunaan minuman keras tradisional, para janda, lanjut usia, penyandang disabilitas, hingga pekerja migran domestik dari pulau-pulau sekitar yang belum sepenuhnya diterima dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Dalam konteks Paroki HKY Olilit Barat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, ‘Kali Code’ adalah masyarakat yang rentan, tersisih, atau sering dipandang sebelah mata namun memiliki potensi besar,” tulis RD Ponsianus.
Pelayanan Diukur dari Kehadiran, Bukan Jabatan
Dalam refleksi yang bernuansa kontemplatif tersebut, RD Ponsianus mengakui bahwa tuntutan administratif dan struktural terkadang membuat seorang imam lebih dikenal karena jabatannya daripada karena kehadiran pastoralnya.
Karena itu, ia menegaskan perlunya pertobatan pastoral agar Gereja semakin dekat dengan umat.
“Saya harus lebih dikenal karena kehadiran yang nyata, hadir saat umat masohi (gotong royong), hadir duduk di para-para rumah umat tanpa formalitas, dan hadir sebagai sahabat seperjalanan yang merasakan langsung angin laut dan teriknya matahari Tanimbar bersama mereka, bukan sekadar memimpin perayaan dari atas altar,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai-nilai persaudaraan yang hidup dalam budaya Tanimbar menjadi kekuatan besar bagi Gereja untuk membangun pelayanan yang lebih manusiawi dan membumi.
Mengenal Umat Lebih Dalam
RD Ponsianus juga melakukan refleksi kritis terhadap pola pelayanan Gereja yang selama ini masih banyak bertumpu pada pendekatan administratif.
Pendataan umat melalui sensus maupun kunjungan resmi dinilai belum cukup untuk memahami kehidupan umat secara utuh.
Ia menilai seorang pastor harus mengenal lebih dalam realitas sosial, budaya, dan pergumulan masyarakat.
“Mengenal umat Olilit Barat berarti harus memahami struktur kekerabatan mereka, memahami bagaimana hukum adat Duan Lolat mengikat hubungan sosial mereka, serta mengetahui apa yang menjadi kecemasan terbesar mereka saat gagal melaut atau saat hasil kebun tidak mencukupi,” tulisnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun relasi melalui kebersamaan sederhana.
“Saya perlu meluangkan waktu untuk tinggal bersama, mendengarkan, dan makan bersama di rumah-rumah umat,” lanjutnya.
Paroki Harus Menjadi Rumah Bersama
Bagi RD Ponsianus, Gereja tidak cukup hanya menjadi pusat peribadatan yang megah. Lebih dari itu, paroki harus benar-benar menjadi rumah yang menghadirkan harapan bagi seluruh umat tanpa memandang status sosial maupun kondisi ekonomi.
Ia mengingatkan agar tidak ada umat miskin yang merasa rendah diri ketika datang ke gereja.
Sebaliknya, Gereja harus menjadi ruang persaudaraan, tempat kaum muda menemukan harapan, serta wadah rekonsiliasi bagi keluarga maupun marga yang mengalami konflik.
“Paroki harus menjadi tempat di mana nilai hidup orang basudara sungguh dihidupi, tempat di mana pemuda yang kehilangan arah menemukan harapan baru, dan tempat perselisihan keluarga dapat didamaikan melalui dialog yang penuh kasih Hati Kudus Yesus,” katanya.
Pastoral Turun ke Bawah
Sebagai langkah konkret, RD Ponsianus menawarkan apa yang disebutnya sebagai “Pastoral Turun ke Bawah”, yakni pelayanan tanpa sekat formalitas.
Ia mengusulkan agar para pelayan Gereja secara rutin berjalan kaki mengunjungi lingkungan maupun stasi, duduk bersama umat, mendengarkan persoalan mereka tanpa dibatasi agenda administrasi.
Selain itu, ia mendorong agar pendekatan budaya Duan Lolat dijadikan instrumen pastoral dalam menyelesaikan konflik-konflik sosial di tengah masyarakat.
Tak kalah penting, Gereja juga didorong membangun pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas kecil melalui pelatihan keterampilan, pengembangan potensi kelautan dan perkebunan, serta pembentukan lumbung hidup paroki sebagai bentuk solidaritas sosial.
Inkarnasi Menjadi Inti Pelayanan
Di penghujung refleksinya, RD Ponsianus menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Gereja bukanlah kemegahan perayaan ataupun banyaknya kegiatan seremonial.
Sebaliknya, keberhasilan pelayanan diukur dari sejauh mana Gereja mampu hadir dan menyatu dalam kehidupan umat.
“Bagi Paroki HKY Olilit Barat di Keuskupan Amboina, misi sejati bukanlah tentang seberapa megah kita merayakan Yubileum atau acara parokial, melainkan seberapa dalam kita berinkarnasi (menyatu) dengan suka dan duka umat Tanimbar. Seperti Romo Mangun, kita diutus untuk membangun ‘rumah kita’ di atas tanah Olilit Barat,” tutup RD Ponsianus Ongirwalu.
Refleksi tersebut menjadi ajakan moral bagi seluruh pelayan Gereja untuk menghadirkan wajah Gereja yang semakin dekat dengan umat, berpihak kepada mereka yang lemah, serta menjadikan nilai persaudaraan sebagai fondasi utama pelayanan di Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya.(jk)












