Melalui refleksi Injil Matius 12:1-8, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat untuk mengedepankan belas kasih daripada sikap menghakimi. Menurutnya, orang beriman dipanggil menjadi pembawa kasih yang merangkul sesama, bukan menjadi “polisi moral” yang sibuk menilai kehidupan orang lain.
www.porosmetro.com | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku | Jumat, 17 Juli 2026
Di tengah kehidupan sosial yang semakin mudah dipenuhi penilaian dan penghakiman terhadap sesama, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mengajak umat Kristiani untuk kembali menempatkan kasih sebagai dasar dalam membangun relasi antarmanusia.
Melalui refleksi Injil Matius 12:1-8, Pastor Pius mengingatkan bahwa sikap merasa paling benar dan paling suci justru menjadi jebakan rohani yang pernah diperlihatkan oleh kaum Farisi pada zaman Yesus.
Perikop Injil yang mengisahkan teguran orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus karena memetik bulir gandum pada hari Sabat menjadi cermin bagi kehidupan umat beriman masa kini.
“Murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat,” demikian kutipan yang menjadi awal refleksi Pastor Pius.
Menurutnya, Yesus tidak sekadar menjawab kritik kaum Farisi, tetapi menunjukkan bahwa hukum Allah tidak boleh dilepaskan dari semangat belas kasih dan kemanusiaan.
Farisi Zaman Kini
Dalam refleksinya, Pastor Pius menilai bahwa sikap kaum Farisi masih dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Mereka, katanya, adalah orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran, lalu merasa memiliki hak untuk menilai bahkan menghakimi kehidupan orang lain.
“Dalam hidup beriman ada saja orang yang menganggap dirinya patokan hidup baik dan standar hidup benar. Merasa berhak menghakimi orang lain yang hidupnya berbeda dengan dirinya. Ingat, merekalah Farisi zaman ini,” tulis Pastor Pius.
Ia mengingatkan bahwa kecenderungan menjadi “polisi moral” sering kali membuat seseorang lebih sibuk mengamati kesalahan orang lain dibandingkan memperbaiki dirinya sendiri.
“Orang Farisi hadir dan terjebak sebagai ‘polisi moral’ bagi sesama. Mereka sibuk memperhatikan dan mengatur hidup orang lain, tetapi terkadang lupa menata diri sendiri,” ungkapnya.
Kasih Menjadi Dasar Kehidupan Bersama
Pastor Pius menegaskan bahwa hukum kasih yang diajarkan Yesus harus menjadi titik tolak dalam membangun kehidupan bersama.
Baginya, kasih bukan sekadar konsep, melainkan sikap nyata yang diwujudkan melalui kepedulian, pengampunan, dan kesediaan mendampingi sesama yang sedang mengalami kelemahan.
Ia mengajak umat untuk tidak mudah memberikan cap buruk kepada orang lain hanya karena melihat kekurangannya.
Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk menghadirkan kasih yang membangun dan memulihkan.
“Terapkan hukum kasih sebagai titik pijak dalam hidup bersama. Bijaksanalah dalam merenda jalan hidup, baik diri sendiri maupun sesama,” pesannya.
Merangkul, Bukan Menghakimi
Di akhir refleksinya, Pastor Pius Heljanan, MSC mengingatkan bahwa tugas seorang beriman bukan menjadi hakim atas kehidupan orang lain, melainkan menjadi saudara yang mampu menuntun dengan penuh kasih.
Menurutnya, ketika menemukan seseorang yang sedang berada di jalan yang keliru, pendekatan yang paling tepat bukanlah penghakiman, melainkan pendampingan yang penuh cinta kasih.
“Bila ada yang salah jalan, tunjukkan yang benar dan rangkullah dengan kasih, bukan menghakimi,” tegas Pastor Pius.
Pesan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas iman seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia menghakimi kesalahan orang lain, tetapi dari seberapa besar kasih yang mampu ia hadirkan dalam kehidupan bersama. Sebab, sebagaimana diteladankan Yesus, belas kasih selalu menjadi jalan utama untuk menghadirkan damai dan memulihkan sesama.(jk)












