Uncategorized

BPI Menjawab Krisis Pengangguran di Tanimbar

×

BPI Menjawab Krisis Pengangguran di Tanimbar

Sebarkan artikel ini

Mengurai Pengangguran di Tanimbar Lewat Pendidikan dan Industri
http://porosmetro.com | Saumlaki – Di tengah meningkatnya harapan masyarakat terhadap hadirnya proyek-proyek strategis migas dan industri di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, persoalan pengangguran usia produktif masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Melihat kondisi itu, PT Bangkit Prestasi Insani (BPI) menawarkan sebuah konsep pengembangan sumber daya manusia yang diklaim terintegrasi dengan kebutuhan dunia industri nasional dan sektor energi.

Gagasan tersebut disampaikan Direktur PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), Joe Noya, saat menerima wawancara media di Kantor BPI Cabang Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jalan Ir. Soekarno Sifnana, Saumlaki, Minggu, 24 Mei 2026.

Dalam pemaparannya, Joe Noya menyebut BPI menargetkan pengurangan angka pengangguran terbuka di Tanimbar melalui pola pembinaan berjenjang yang dimulai dari pendidikan dasar keterampilan hingga penempatan kerja di sektor industri dan migas. “Pengembangan SDM harus dilakukan dengan hati yang tulus. Mendidik harus secara holistik, mulai dari menyiapkan manusianya, pengetahuan, skill, hingga terintegrasi dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Tiga Tahapan Pengembangan
Program yang dirancang BPI dibagi dalam tiga tahapan berdasarkan latar belakang pendidikan peserta. Untuk lulusan SMA sederajat, BPI menyiapkan program jangka pendek dengan fokus pada bidang hospitality dan technical supporting. Tahapan awal dimulai melalui proses verifikasi untuk mengetahui latar belakang pendidikan, minat, dan kemampuan dasar peserta.

Setelah itu, peserta akan menjalani pembinaan disiplin oleh institusi TNI, pembinaan karakter dasar bersama tim dari Universitas Gadjah Mada, hingga pelatihan sertifikasi kompetensi dan keselamatan kerja.

Menurut Joe Noya, peserta pada tahap ini dipersiapkan untuk memasuki proyek land clearing Inpex di Desa Lermatang, pekerjaan EPC konstruksi, hingga pengembangan lima klaster industri strategis di Tanimbar.

Selain itu, peserta juga berpeluang mengikuti program magang di perusahaan konsorsium BPI bidang jasa konstruksi yang beroperasi di Indonesia, termasuk memperoleh beasiswa pendidikan formal dan vokasional migas di Yogyakarta.

Menyiapkan Tenaga Hilir Industri
Sementara itu, program jangka menengah diperuntukkan bagi lulusan Diploma Tiga (D3) sederajat yang diarahkan masuk ke sektor hilir industri energi dan migas.

Dalam tahap ini, peserta akan mendapatkan pelatihan kepemimpinan, sertifikasi kompetensi standar migas, sertifikasi keselamatan kerja, hingga pembinaan kemampuan teknis sesuai bidang pekerjaan yang dipilih. “Peserta dipersiapkan untuk masuk mengelola fasilitas produksi yang ada di lima klaster industri strategis Tanimbar,” kata Joe Noya.

BPI juga membuka peluang magang kerja di perusahaan konsorsium bidang konstruksi di Indonesia serta program peningkatan keterampilan lanjutan di Yogyakarta bersama mitra industri.

Membuka Jalan ke Hulu Migas
Adapun program jangka panjang diperuntukkan bagi lulusan Strata Satu (S1) sederajat yang diarahkan masuk ke sektor hulu energi. Tahapan ini meliputi pelatihan teori dasar migas, penguatan leadership di Yogyakarta bersama JTTC dan UGM, praktik peningkatan kompetensi, hingga magang di berbagai kilang produksi migas.

Joe Noya mengatakan peserta juga akan mendapatkan pendampingan langsung dari tenaga engineering yang direkrut melalui kerja sama BPI dengan sejumlah mitra industri seperti Daekyung, DTC, DHJ, dan Adyawinsa Group. Peserta pada tahap ini dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja nasional maupun internasional melalui jalur magang dan penempatan kerja di sektor industri migas dan konstruksi.

Klaster Industri Strategis
Dalam wawancara tersebut, Joe Noya turut membeberkan sejumlah perusahaan yang diproyeksikan terlibat dalam pengembangan lima klaster industri strategis di Tanimbar.
Daekyung disebut menangani 18 bidang pelatihan sertifikasi kompetensi tanpa menggunakan APBD untuk Klaster 1 dan Klaster 2.

Fikawan diproyeksikan bergerak pada pengembangan PLTS dan investasi infrastruktur pada Klaster 4 dan Klaster 5.
Sementara Mega Areboga akan mengembangkan fasilitas processing pangan berbasis investasi pada Klaster 3.
Untuk sektor penunjang industri, Minarta disiapkan membangun warehouse, workshop, dan akomodasi kru industri pada Klaster 4. Adapun Alkatec disebut akan mengembangkan sistem penyediaan air bersih melalui investasi kawasan industri.

Mereka Bukan Beban, Tapi Aset”
Joe Noya menegaskan bahwa persoalan pengangguran dan pengembangan SDM tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah maupun satu lembaga tertentu.

Ia menyebut pengembangan SDM merupakan tanggung jawab bersama yang harus melibatkan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, tokoh adat, organisasi keagamaan, praktisi migas, hingga perusahaan operator seperti Inpex, Pertamina, dan Petronas. “Pekerjaan ini terlalu berat kalau hanya dilakukan pemda atau BPI sendiri. Pengembangan SDM menjadi tanggung jawab semua pihak,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat di kawasan terdampak Blok Masela harus dipandang sebagai bagian penting dari masa depan industri. “Mereka bukan beban bagi operator. Mereka adalah aset perusahaan ke depan,” tegas Joe Noya.

Di akhir wawancara, ia mengajak seluruh masyarakat Tanimbar untuk bersatu membantu mengatasi angka pengangguran terbuka demi masa depan daerah yang lebih baik. “Mari bersama-sama membantu mengatasi angka pengangguran terbuka di Tanimbar menuju Tanimbar yang lebih baik ke depannya,” tutupnya.(Jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *