Pengembangan SDM Lokal Disiapkan Menyambut Industri Migas Masela
http://www.porosmetro.com | Saumlaki – PT Bangkit Prestasi Insani (BPI) menyusun peta jalan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Kepulauan Tanimbar guna menyambut kebutuhan tenaga kerja industri migas di Blok Masela, tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Komitmen itu disampaikan Direktur PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), Joe Noya, saat diwawancarai media di Kantor BPI Cabang KKT, Jalan Ir. Soekarno Sifnana RT 11 RW 3, depan Kodim, Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Jumat, 22 Mei 2026.
Joe mengatakan, BPI telah lama mengikuti perkembangan industri migas nasional, termasuk sejak eksplorasi Sumur Abadi 1 di Blok Masela pada awal tahun 2000-an.
Pengalaman itu menjadi dasar perusahaan dalam menyusun konsep pengembangan SDM berbasis kebutuhan industri energi.
“BPI bukan anak kemarin sore. Sejak tahun 2000 kami sudah memantau perkembangan industri migas, termasuk eksplorasi Sumur Abadi 1,” ujar Joe.
Program Melewati Tiga Periode Pemerintahan
Menurut Joe, gagasan pengembangan SDM migas di Maluku, khususnya di Tanimbar, telah dibahas sejak beberapa periode pemerintahan daerah.
Ia menyebut komunikasi program pernah dilakukan pada masa pemerintahan almarhum Gubernur Maluku Said Assagaff, berlanjut di era Gubernur Murad Ismail, hingga pemerintahan Gubernur Maluku saat ini, Hendrik Lewerissa. Namun program tersebut belum berjalan optimal karena industri migas di kawasan itu masih berada dalam tahap pengembangan.
Di tingkat daerah, BPI juga telah melakukan pendekatan pada tiga periode pemerintahan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mulai dari pejabat sementara hingga bupati definitif.
Pada periode sebelumnya, kata dia, sempat terjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Namun program tersebut belum dapat dieksekusi karena terkendala mekanisme daerah dan penggunaan pihak lain sebagai mitra pelaksana. “Melalui proses verifikasi dan dialog berulang bersama pemerintah daerah saat ini, akhirnya kami diberi kesempatan untuk menyusun konsep pengembangan SDM tanpa membebani APBD,” katanya.
SDM Dibagi dalam Beberapa Tingkatan
Dalam konsep yang disiapkan BPI, pengembangan SDM dibagi ke dalam beberapa tingkatan atau grade sesuai kebutuhan industri migas.
Untuk Grade C, pelatihan difokuskan pada bidang hospitality dan technical supporting. Program ini dirancang dilaksanakan langsung di Saumlaki agar lebih efektif dan menjangkau lebih banyak calon tenaga kerja lokal.
Sementara Grade B diperuntukkan bagi tenaga kerja kelas menengah yang dipersiapkan pada sektor konstruksi dan pekerjaan teknis. BPI mengaku telah menjalin kerja sama dengan perusahaan konstruksi migas guna mendukung pelatihan lanjutan dan sertifikasi di Cilegon.
Adapun Grade A dipersiapkan untuk level operator produksi, supervisor hingga manajerial. Peserta nantinya akan mendapatkan pembekalan teori di Jawa dan praktik di sejumlah institusi yang memiliki fasilitas industri migas. “Mereka akan mendapatkan pembelajaran teoritis dan praktik di institusi yang memiliki fasilitas pendukung, seperti Indoturbine maupun IPTN,” ujar Joe.
BPI Tegaskan Bukan Penyedia Lapangan Kerja
Joe menegaskan, tugas utama BPI adalah menyiapkan SDM yang siap masuk ke industri, bukan menyediakan pekerjaan secara langsung.
Menurut dia, masih terdapat pemahaman keliru di tengah masyarakat terkait peran lembaga pelatihan dalam proyek migas. “Keliru kalau ada yang menganggap BPI bertanggung jawab menyediakan pekerjaan bagi anak-anak ini. Tugas kami adalah menyiapkan SDM agar siap bersaing di industri,” tegasnya.
Ia menambahkan, tanggung jawab penyerapan tenaga kerja berada pada perusahaan operator, pemerintah daerah, serta lembaga terkait lainnya.
Program Berkelanjutan Hingga Puluhan Tahun
Joe menilai pengembangan SDM di Tanimbar tidak dapat dilakukan secara singkat karena proyek migas Blok Masela diperkirakan memiliki masa produksi hingga sekitar tahun 2055. Karena itu, kata dia, program pengembangan SDM harus dirancang berkelanjutan dan mengikuti tahapan industri migas.
Pada tahun pertama, fokus diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja bagi pekerjaan awal seperti land clearing. Tahun kedua difokuskan pada kebutuhan EPC construction, sedangkan tahun ketiga mulai mempersiapkan tenaga kerja untuk sektor hulu dan operasional produksi. “Di fase itulah kebutuhan tenaga kerja sangat besar, mulai dari operator produksi sampai level supervisor dan manajer,” ujarnya.
Joe berharap pemerintah daerah dan masyarakat Tanimbar memahami bahwa peluang besar di sektor migas hanya dapat dimanfaatkan apabila SDM lokal dipersiapkan secara serius sejak dini. “Masyarakat harus sadar bahwa Tanimbar adalah wilayah migas. Karena itu, SDM lokal harus dipersiapkan dari sekarang,” katanya menutup.(jk)












