Uncategorized

Pdt. Haris Boritnaban: Kasih Karunia Tidak Memberi Akses untuk Hidup dalam Dosa

×

Pdt. Haris Boritnaban: Kasih Karunia Tidak Memberi Akses untuk Hidup dalam Dosa

Sebarkan artikel ini

http://porosmetro.com | Saumlaki, Minggu, 19 Juli 2026 – Ibadah Raya Minggu di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, berlangsung dalam suasana sukacita dan penuh penghayatan iman. Jemaat hadir untuk bersama-sama memasuki hadirat Tuhan melalui pujian, penyembahan, pemberitaan firman, hingga doa penutup.

Rangkaian penyembahan dipandu Pelayan Tuhan, Saudara Bima Boritnaban, bersama tim singer dan pemusik yang mengiringi jemaat dengan keyboard, drum, dan gitar.

Lagu-lagu rohani bernuansa sukacita mengalun, mengantar jemaat untuk menata hati dan mengarahkan kehidupan kepada Tuhan. “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur,” menjadi ajakan yang mengawali suasana penyembahan.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak dengan berbagai tantangan, ibadah menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali mengingat bahwa kehidupan orang percaya tidak hanya dibangun oleh kekuatan manusia, tetapi juga oleh kasih karunia Allah.

Keselamatan dan Pertanyaan tentang Dosa
Pemberitaan firman Tuhan disampaikan Pdt. Haris Boritnaban, S.Th., dengan mengangkat tema reflektif sekaligus kritis: “Apakah Keselamatan Akses Orang Hidup dalam Dosa?”

Tema tersebut membawa jemaat kepada sebuah pertanyaan mendasar dalam kehidupan iman: jika seseorang telah menerima keselamatan melalui iman dan kasih karunia Allah, apakah hal itu berarti ia memiliki kebebasan untuk terus hidup dalam dosa?

Bagi Pdt. Haris, pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan hati-hati dan berdasarkan pemahaman yang benar terhadap firman Tuhan. Ia mengingatkan jemaat agar tidak sembarangan menafsirkan teks-teks Alkitab, khususnya tulisan Rasul Paulus yang memiliki kedalaman teologis sekaligus dimensi pastoral.

Surat-surat Paulus kepada jemaat, menurutnya, mengandung doktrin yang kuat. Namun, di dalamnya juga terdapat pesan pastoral yang menuntun kehidupan umat. Karena itu, pengajaran tentang keselamatan tidak boleh dipisahkan dari panggilan untuk menjalani kehidupan yang benar.

Ia merujuk pada 2 Petrus 3:16 yang mengingatkan bahwa dalam surat-surat Paulus terdapat perkara-perkara yang sukar dipahami, sehingga dapat disalahartikan oleh mereka yang tidak memahami dan tidak teguh dalam iman.

“Saat bicara soal pengajaran perlu hati-hati. Banyak pengajar salah gunakan tulisan Paulus. Surat Paulus juga bersifat pastoral. Pagi ini kita soroti doktrin keselamatan. Banyak yang salah menafsirkan.”

Peringatan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan berbagai pemahaman keagamaan yang terkadang hanya mengambil satu bagian ayat untuk membenarkan suatu pandangan, tanpa melihat keseluruhan konteks pesan Alkitab.

Keselamatan Adalah Anugerah, Bukan Hasil Usaha Manusia
Dalam khotbahnya, Pdt. Haris menjelaskan bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah. Manusia tidak memperoleh keselamatan karena kekuatan, prestasi, atau perbuatan baiknya sendiri.

Ia mengutip Efesus 2:8 yang menegaskan bahwa manusia diselamatkan karena kasih karunia melalui iman. Keselamatan itu merupakan pemberian Allah.
Dalam pemahaman sola fide, manusia dibenarkan karena iman. Namun, iman yang menyelamatkan tidak berhenti sebagai pengakuan di bibir. Iman tersebut seharusnya menghasilkan perubahan kehidupan.

Pdt. Haris juga mengutip Efesus 2:9-10. Keselamatan bukan hasil pekerjaan manusia sehingga tidak ada ruang untuk bermegah diri. Sebaliknya, orang percaya disebut sebagai buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.

Di titik inilah, menurut Pdt. Haris, terdapat hubungan erat antara keselamatan, iman, dan kehidupan baru. Keselamatan adalah anugerah, tetapi anugerah tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembenaran untuk terus menjalani kehidupan lama.

Kasih Karunia Bukan Tiket untuk Terus Berdosa
Pdt. Haris kemudian membawa jemaat kepada pertanyaan Rasul Paulus dalam Roma 6:1-2: apakah manusia boleh terus hidup dalam dosa supaya kasih karunia semakin bertambah?

Jawaban Paulus tegas: sekali-kali tidak.
Pertanyaan yang sama kembali ditegaskan dalam Roma 6:15. Orang percaya tidak boleh menggunakan kasih karunia sebagai alasan untuk kembali berbuat dosa.

Bagi Pdt. Haris, persoalan ini menjadi salah satu kekeliruan yang perlu diluruskan dalam kehidupan orang percaya. Keselamatan tidak boleh dipahami sebagai sebuah “akses” atau kebebasan untuk hidup tanpa batas dalam dosa.

“Ini kekeliruan seolah-olah orang yang sudah terima keselamatan bisa tetap berbuat dosa. Kita dituntut hidup suci. Keselamatan harus hasilkan pertobatan. Orang yang sudah diselamatkan harusnya hidup baru, tidak lagi hidup dalam dosa.”

Pernyataan tersebut menjadi inti permenungan dalam khotbahnya. Kasih karunia bukanlah ruang untuk mempermainkan dosa. Sebaliknya, kasih karunia adalah kekuatan yang memampukan manusia meninggalkan kehidupan lama dan menjalani kehidupan baru.

Dari Hamba Dosa Menjadi Milik Kristus
Mengutip Roma 6:16, Pdt. Haris mengajak jemaat melihat kembali identitas manusia sebelum mengalami penebusan Kristus.
Manusia yang hidup dalam dosa, dalam pengertian Paulus, berada dalam perhambaan dosa. Namun, ketika seseorang menerima penebusan Kristus, identitas dan arah hidupnya mengalami perubahan.
Ia tidak lagi hidup sebagai hamba dosa, melainkan menjadi milik Kristus.

Dalam konteks ini, Pdt. Haris mengingatkan bahwa penebusan bukanlah perkara murah. Kristus telah membayar manusia dengan pengorbanan yang mahal.

“Sebelum kita ditebus Yesus, kita hamba dosa. Paulus bicara dia adalah hamba Kristus dalam konteks dia sebagai rasul. Tuhan sudah bayar kita dengan darah yang mahal. Bila saudara sudah milik Kristus jangan lagi buat dosa.”

Pesan tersebut mengandung sebuah panggilan moral dan spiritual: seseorang yang telah mengalami kasih karunia seharusnya menunjukkan perubahan dalam kehidupannya.

Pertobatan bukan hanya pengalaman emosional sesaat. Pertobatan adalah perubahan arah hidup.

Kasih Karunia yang Mendidik
Pdt. Haris kemudian mengarahkan jemaat kepada Titus 2:11-12. Dalam teks tersebut, kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia bukan hanya membawa keselamatan, tetapi juga mendidik manusia untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi.

Kasih karunia mengajar manusia untuk hidup bijaksana, adil, dan beribadah di tengah dunia.

Dengan demikian, kasih karunia tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan karakter dan kehidupan yang kudus.
“Kasih karunia tidak beri akses orang hidup dalam dosa. Keselamatan membawa orang meninggalkan kefasikan.”

Pesan tersebut menjadi sebuah refleksi penting bagi umat Kristiani: menerima keselamatan berarti menerima panggilan untuk hidup dalam pembaruan.

Keselamatan bukan sekadar status spiritual, tetapi harus terlihat dalam cara seseorang berbicara, berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menjalani kehidupannya sehari-hari.

Jangan Menjadi Lalang di Antara Gandum
Pada bagian akhir khotbah, Pdt. Haris menyampaikan sebuah peringatan yang kuat melalui gambaran gandum dan lalang.
“Jangan saudara jadi lalang di antara gandum, jangan jadi kambing di antara domba.” Pesan tersebut menjadi ajakan agar setiap orang percaya melakukan introspeksi terhadap kehidupannya sendiri.

Di tengah dunia yang penuh dengan godaan, manusia dapat dengan mudah mengaku telah menerima keselamatan, tetapi pada saat yang sama tetap mempertahankan kehidupan lama yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Karena itu, pertanyaan tentang keselamatan tidak berhenti pada apakah seseorang mengaku percaya. Pertanyaan yang lebih jauh adalah: apakah keselamatan itu telah mengubah hidupnya?

Sebab, iman yang hidup semestinya menghasilkan buah. Dan buah itu terlihat melalui pertobatan, kekudusan, kasih, ketaatan, serta kesediaan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Ibadah Ditutup dengan Ucapan Syukur dan Berkat
Setelah pemberitaan firman Tuhan, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan persembahan sebagai ungkapan syukur jemaat kepada Tuhan.

Pada kesempatan tersebut, worship leader mewakili jemaat menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pdt. Haris Boritnaban, S.Th., atas pelayanan firman yang telah disampaikan. “Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ujarnya.

Selanjutnya, gembala bersama staf pelayan GBI Milos Saumlaki menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali hadir dalam ibadah. “Shalom, Bapa/Ibu jemaat. Gembala bersama staf pelayan mengucapkan selamat datang kepada Bapa/Ibu yang baru pertama kali hadir. Pintu gereja kami terbuka bagi kehadiran Bapa/Ibu pada ibadah selanjutnya.”

Jemaat juga diinformasikan mengenai kegiatan ibadah kelompok kecil atau komsel yang dapat diikuti melalui informasi pada grup WhatsApp masing-masing komsel.
Rangkaian ibadah kemudian ditutup dengan doa dan berkat yang dipimpin Gembala Jemaat GBI MILOS Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th.

Dari seluruh rangkaian ibadah tersebut, satu pesan utama kembali menggema: kasih karunia adalah anugerah keselamatan, tetapi anugerah itu tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi alasan manusia mempertahankan dosa.
Keselamatan justru mengundang manusia untuk keluar dari kehidupan lama, meninggalkan kefasikan, dan berjalan dalam kehidupan baru bersama Kristus.

Sebab, pada akhirnya, ukuran iman bukan hanya terletak pada apa yang diucapkan oleh bibir, tetapi juga pada bagaimana iman itu menjelma menjadi kehidupan yang nyata, dalam pertobatan, kekudusan, ketaatan, dan buah-buah kebaikan di tengah dunia.
Tuhan Yesus memberkati. (rls:joko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *