Uncategorized

RD Ponsianus Ongirwalu: Tiga Anak, Tiga Kisah, Satu Pelukan Kasih Gereja

×

RD Ponsianus Ongirwalu: Tiga Anak, Tiga Kisah, Satu Pelukan Kasih Gereja

Sebarkan artikel ini

www.porosmetro.com | Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku | Saumlaki, Sabtu, 25 Juli 2026 – Hujan yang turun sejak pagi menghadirkan suasana dingin dan syahdu di tengah perayaan Pesta Santo Yakobus Rasul. Namun, di balik rintik hujan dan udara yang menusuk, ada kehangatan lain yang justru tumbuh dari kesetiaan umat untuk tetap hadir dan mengambil bagian dalam perayaan iman.

Kehadiran umat Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, khususnya Rukun Santa Theresia dan anak-anak yang datang untuk melayani, menjadi sebuah pemandangan sederhana yang menyimpan makna mendalam.

Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kehadiran anak-anak dalam suasana seperti itu bukan sekadar bagian dari rutinitas liturgi. Ada cerita kehidupan, perjuangan, harapan, dan kasih Tuhan yang berkelindan di balik wajah-wajah kecil tersebut.

“Di tengah hujan yang deras, kehadiran kalian justru memberikan kehangatan dan sukacita yang besar bagi seluruh umat Paroki HKY Olilit Barat,” demikian ungkapan hati RD Ponsianus kepada anak-anak yang hadir dan melayani dalam perayaan tersebut.

Bagi seorang pastor, barangkali tidak ada hadiah yang lebih bermakna daripada melihat anak-anak tumbuh dalam iman, berani mengambil bagian dalam kehidupan menggereja, dan perlahan belajar menemukan Tuhan dalam perjalanan hidup mereka.

Karena itu, apresiasi sederhana berupa buku tulis dan buku gambar yang diberikan Pastor Paroki bukan sekadar pemberian berupa benda.

Di balik hadiah yang tampak sederhana itu, tersimpan sebuah pesan kasih: bahwa Gereja melihat mereka, mendengarkan mereka, dan hadir menemani perjalanan hidup mereka.

Buku Tulis dan Buku Gambar, Simbol Masa Depan
Buku tulis dan buku gambar menjadi simbol yang sangat sederhana, tetapi sarat makna.
Bagi anak-anak, buku adalah ruang untuk menulis dan menggambar masa depan. Di atas lembaran yang masih putih, mereka dapat menuangkan imajinasi, cita-cita, dan harapan.

Dalam konteks refleksi RD Ponsianus, buku-buku tersebut menjadi lebih dari sekadar hadiah. Ia menjadi simbol bahwa kehidupan anak-anak masih panjang dan terbuka luas untuk diisi dengan cerita-cerita kebaikan.

“Peganglah buku-buku tulis ini sebagai simbol bahwa masa depan kalian masih putih dan bersih, siap diisi dengan cerita-cerita hebat dan prestasi yang membanggakan.”

Kalimat tersebut menjadi sebuah peneguhan yang sederhana sekaligus dalam. Masa depan anak-anak tidak boleh ditentukan hanya oleh keadaan yang mereka hadapi hari ini.

Di balik setiap anak, selalu ada kemungkinan besar yang sedang bertumbuh.
Dan Gereja, melalui kehadiran para pelayan pastoral dan umatnya, memiliki panggilan untuk menjaga kemungkinan itu agar tetap hidup.

Guntur Nanaryain dan Keteguhan Hati di Usia Belia
Salah satu anak yang mendapat perhatian khusus adalah Guntur Nanaryain, siswa Kelas I SD Don Bosco 1.

Di usia yang masih sangat muda, Guntur harus merasakan jarak dengan orang tuanya. Sang ibu bekerja jauh di Ambon, sementara dalam kesehariannya ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Oma dan Opa yang setia merawatnya.

Kisah Guntur memperlihatkan bahwa masa kanak-kanak tidak selalu berjalan dalam keadaan yang sempurna. Ada anak-anak yang sejak dini harus belajar memahami jarak, kerinduan, dan keadaan hidup yang tidak selalu mudah.

Namun, di tengah semua itu, kasih Tuhan hadir melalui orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Senyum dan kepolosan Guntur menjadi gambaran tentang keteguhan hati seorang anak yang terus bertumbuh dalam kasih.
Kepada Guntur, RD Ponsianus menyampaikan sebuah pesan yang sangat personal dan menyentuh.

“Guntur anak manis, ingat ya, Guntur tidak pernah sendiri. Walaupun Mama bekerja jauh di Ambon dan Bapa belum bisa mendampingi, Tuhan Yesus sangat menyayangi Guntur.”

Pastor Paroki juga mengingatkan bahwa kehadiran Oma dan Opa merupakan bentuk nyata kasih Tuhan dalam kehidupan Guntur.
“Tuhan memberikan Oma dan Opa yang begitu luar biasa mencintai dan merawat Guntur setiap hari.”

Buku gambar yang diberikan kepada Guntur pun memiliki pesan tersendiri. “Buku gambar Tuhan Yesus ini untuk Guntur, supaya saat Guntur menggambar dan mewarnai, Guntur selalu ingat bahwa Tuhan Yesus selalu ada di samping Guntur.”

Sebuah kalimat yang barangkali sederhana bagi orang dewasa, tetapi dapat menjadi penguatan yang berarti bagi seorang anak yang sedang belajar memahami kehidupan.

Wofly Samponu, Mazmur yang Menjadi Doa untuk Ayah
Kisah lain datang dari Wofly Samponu, siswa Kelas VI SD Naskat Don Bosco 1.
Pagi itu, Wofly mengambil bagian dalam liturgi dengan melantunkan Mazmur Tanggapan.

Namun, bagi RD Ponsianus, suara Wofly bukan sekadar suara seorang anak yang menjalankan tugas liturgi. Di dalamnya ada kisah kehilangan dan kerinduan.

Mazmur yang dilantunkannya menjadi seperti doa seorang anak kepada Tuhan untuk ayahnya yang telah meninggal dunia.
Ada sesuatu yang begitu manusiawi dalam pengalaman tersebut. Seorang anak yang kehilangan ayahnya, tetapi tetap menyimpan tekad untuk melangkah maju dan menjadi pribadi yang sukses.

Di balik suara yang terdengar di ruang gereja, ada kerinduan seorang anak dan harapan yang ingin terus dijaga. “Wofly, nyanyian Mazmurmu pagi ini sangat indah dan menyentuh hati,” tutur RD Ponsianus.

“Pastor yakin, suara indahmu tadi bukan hanya didengar oleh kita di gereja ini, tapi menembus sampai ke surga dan didengar langsung oleh Bapa di surga serta almarhum Bapamu.”

Pesan tersebut menjadi sebuah pelukan rohani bagi seorang anak yang sedang belajar berdamai dengan kehilangan.
RD Ponsianus juga menitipkan pesan agar tekad Wofly untuk menjadi orang sukses tidak pernah padam.

“Simpan tekadmu yang mulia itu baik-baik di dalam hati. Rajinlah belajar, tetaplah rendah hati, dan andalkan Tuhan dalam setiap langkahmu.”

Sebab, keberhasilan yang sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Bagi seorang anak, kesuksesan juga dapat menjadi bentuk bakti kepada keluarga dan penghormatan kepada orang-orang yang telah mencintainya.

“Bapa di surga bangga melihatmu pagi ini, dan Pastor percaya kelak kamu akan menjadi anak yang sukses dan menjadi kebanggaan Mama serta keluarga.”

AL Laiyan dan Sabda Tuhan dari Suara Kecil
Sementara itu, AL Laiyan, siswa Kelas V SD Don Bosco 1, mengambil bagian dalam perayaan dengan membacakan Kitab Suci.

Di tengah suasana pagi yang syahdu, suara seorang anak membacakan Sabda Tuhan di hadapan umat menghadirkan sebuah gambaran tentang bagaimana iman diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Suara kecil itu menjadi sarana untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada seluruh umat.

RD Ponsianus memberikan apresiasi sekaligus dorongan agar AL terus mengembangkan kecintaannya terhadap Sabda Tuhan. “AL, terima kasih ya sudah membacakan Sabda Tuhan dengan sangat baik dan tenang pagi ini.”

Menurutnya, kemampuan seorang anak untuk berdiri dan membacakan Kitab Suci di hadapan banyak orang merupakan karunia yang patut disyukuri dan dikembangkan.
“Mampu membacakan Kitab Suci di depan banyak orang adalah karunia yang indah dari Tuhan.”

Karena itu, AL diajak untuk tidak berhenti pada pelayanan liturgi semata. Ia diharapkan terus menjadikan Sabda Tuhan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Teruslah mencintai Sabda Tuhan, rajin membaca Alkitab di rumah, dan jadikan firman Tuhan sebagai penuntun langkahmu.”

Pada akhirnya, suara AL bukan hanya suara seorang anak yang membaca Kitab Suci.
Ia adalah suara kecil yang membawa pesan besar: bahwa Tuhan dapat menyapa umat-Nya melalui siapa saja, termasuk melalui anak-anak yang dengan tulus mengambil bagian dalam pelayanan Gereja.

Gereja yang Hadir, Mendengar, dan Memeluk
Tiga anak itu membawa tiga cerita yang berbeda. Guntur membawa kisah tentang kerinduan dan keteguhan hati di tengah jarak dengan orang tua.

Wofly membawa kisah kehilangan seorang ayah, tetapi sekaligus menyimpan tekad untuk menatap masa depan.

Sementara AL Laiyan menghadirkan kisah tentang keberanian seorang anak untuk menyampaikan Sabda Tuhan kepada umat.

Ketiganya bertemu dalam satu ruang iman.
Di situlah Gereja menemukan salah satu wajahnya yang paling manusiawi: bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai rumah yang mau mendengar, memahami, menguatkan, dan menemani.

Perhatian kecil berupa buku tulis dan buku gambar menjadi simbol bahwa anak-anak tidak berjalan sendirian. Ada Gereja yang hadir bersama mereka. Ada umat yang memperhatikan. Ada orang-orang yang mendoakan. Dan ada Tuhan yang diyakini senantiasa menyertai perjalanan hidup mereka.

Melayani Tuhan di Tengah Hujan
Perayaan Pesta Santo Yakobus Rasul pada akhirnya menghadirkan sebuah refleksi yang lebih luas. Hujan tidak selalu harus dimaknai sebagai penghalang. Terkadang, justru dalam suasana yang dingin dan basah, manusia dapat menemukan kehangatan yang tidak terduga.

Kehadiran anak-anak yang tetap datang dan melayani Tuhan menjadi pengingat bahwa iman dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.
Dari sebuah nyanyian. Dari bacaan Kitab Suci. Dari sebuah senyuman. Dari sebuah buku gambar. Dari sebuah pesan seorang pastor. Dan dari sebuah komunitas yang memilih untuk saling menjaga.

RD Ponsianus pun menutup pesannya dengan sebuah berkat dan peneguhan yang ditujukan kepada anak-anak yang dikasihinya.

“Tetaplah menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan, hormat kepada orang tua, guru, dan pengasuh kalian. Doa Pastor dan seluruh umat Paroki HKY Olilit Barat selalu menyertai langkah kalian. Tuhan Yesus memberkati.”

Pesan itu menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan hanya tugas keluarga dan sekolah. Gereja pun memiliki tanggung jawab untuk menanamkan harapan, merawat iman, dan memastikan bahwa setiap anak merasa dirinya berharga dan dicintai.

Sebab, anak-anak bukan hanya masa depan Gereja. Mereka adalah bagian dari Gereja hari ini.

Dan ketika Gereja memilih untuk hadir bagi mereka, sesungguhnya Gereja sedang merawat masa depan dengan kasih.
Salve, Ratu Norkit Monuk Dedesar, Ubilaa Norang Ita Didtinemun, Kida Bela.(rls:jk)
(Refleksi RD Ponsianus Ongirwalu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *