Uncategorized

Pastor Pius Heljanan, MSC: Jadikan Hukum Kasih sebagai “Golden Rule” dalam Kehidupan

×

Pastor Pius Heljanan, MSC: Jadikan Hukum Kasih sebagai “Golden Rule” dalam Kehidupan

Sebarkan artikel ini

porosmetro.com | Saumlaki, Senin, 17 Agustus 2026 – Ketika seseorang menunjukkan kepedulian melalui tindakan sederhana, sesungguhnya ia sedang menghadirkan kasih dalam bentuk yang dapat dirasakan oleh sesama. Kasih tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diterjemahkan melalui sikap peduli dan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengenai pentingnya menjadikan hukum kasih sebagai pedoman dalam kehidupan.

Dalam refleksinya, Pastor Pius mengingatkan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Keduanya merupakan satu kesatuan yang harus diwujudkan melalui kehidupan nyata.

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamu seperti dirimu sendiri,” demikian pesan yang menjadi dasar refleksinya.

Menurut Pastor Pius, mengasihi bukan sekadar ungkapan yang disampaikan melalui perkataan. Kasih harus hadir melalui sikap peduli dan perbuatan sehingga dapat dirasakan oleh siapa pun, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam mendengar maupun melihat.

“Bahasa kasih diterjemahkan dalam sikap peduli dan perbuatan, sehingga dapat didengar orang tuli dan bisa dilihat orang buta,” demikian refleksinya.

Ia menjelaskan, mengasihi Allah berarti menyerahkan diri secara total kepada-Nya. Sementara itu, kasih kepada sesama diwujudkan melalui tindakan yang berorientasi pada kebaikan dan penghormatan terhadap orang lain.

Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan apa yang disebut sebagai “Aturan Emas” atau “Golden Rule”, yakni memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang menghendaki dirinya diperlakukan.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka,” demikian kutipan yang merujuk pada Injil Matius 7:12.

Pastor Pius juga menekankan bahwa kehidupan sebagai manusia tidak harus dimulai dengan ambisi untuk menjadi hebat. Sebaliknya, manusia terlebih dahulu dipanggil untuk menjalani kehidupan secara benar sebagai manusia yang memiliki kepedulian, kasih, dan tanggung jawab terhadap sesama.

“Kita dipanggil untuk hidup normal sebagai manusia. Tuhan tidak meminta menjadi hebat lebih dahulu, tetapi Dia minta kita menjadi manusia lebih dulu,” ujarnya dalam refleksi tersebut.

Karena itu, saling mengasihi menjadi salah satu dasar penting untuk membangun kehidupan manusia yang utuh. Kasih kepada Allah dan sesama tidak hanya menjadi ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi pedoman moral dalam membangun relasi sosial yang manusiawi.

“Saling mengasihi menjadikan kita manusia normal,” demikian penegasan Pastor Pius, merujuk pada pesan Injil Matius 22:34-40.

Refleksi tersebut mengajak setiap orang untuk menjadikan hukum kasih bukan sekadar pengetahuan atau ajaran yang diingat, melainkan prinsip yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Dengan demikian, kasih dapat hadir secara nyata melalui kepedulian, penghormatan, pelayanan, dan perbuatan baik kepada sesama. Editor: Johanis Kopong
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *