Pastor Pius Heljanan, MSC: Gandum dan Ilalang Tumbuh Bersama
www.porosmetro.com | Lauran, Kepulauan Tanimbar, Maluku, Minggu, 19 Juli 2026 –
Ketika Tuhan Memilih Bersabar
Di tengah kehidupan manusia yang kerap diwarnai penilaian, penghakiman, bahkan keinginan untuk menyingkirkan mereka yang dianggap bersalah, pesan rohani Pastor Pius Heljanan, MSC, menghadirkan sebuah permenungan mendalam tentang kesabaran dan belas kasih Tuhan.
Pastor Pius Heljanan, MSC, dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat untuk melihat kembali cara Tuhan memperlakukan manusia yang jatuh dalam kesalahan.
Melalui perumpamaan tentang gandum dan ilalang sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius 13:24-43, manusia diajak memahami bahwa kebaikan dan kejahatan dapat tumbuh berdampingan dalam kehidupan.
Namun, Tuhan tidak tergesa-gesa menjatuhkan hukuman.
“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.”
Pesan Yesus itu menjadi inti permenungan Pastor Pius. Di balik perumpamaan tersebut, terdapat gambaran tentang Allah yang panjang sabar dan penuh belas kasih. Tuhan memberikan ruang dan waktu kepada manusia untuk berubah, menyadari kesalahan, serta menemukan kembali jalan pertobatan.
Kesabaran yang Memberi Ruang bagi Pertobatan
Menurut Pastor Pius, gandum dapat dimaknai sebagai gambaran orang benar, sementara ilalang menggambarkan mereka yang hidup dalam kejahatan. Namun, Tuhan tidak serta-merta memisahkan atau menghukum mereka.
Kesabaran Tuhan justru menjadi kesempatan bagi manusia untuk bertobat.
“Tuhan menunjukkan kesabaran dan belaskasih dalam kisah ini. Ia tidak langsung menghukum orang jahat, tetapi dibiarkan hidup bersama orang baik,” demikian pesan reflektif Pastor Pius.
Dalam perspektif iman, waktu bukan sekadar perjalanan menuju masa depan. Waktu adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri, mengakui kesalahan, memohon pengampunan, dan memulai kembali kehidupan dengan hati yang baru.
Karena itu, seseorang yang hari ini dipandang sebagai “ilalang” belum tentu selamanya menjadi ilalang. Ada kemungkinan bahwa melalui pengalaman hidup, sentuhan kasih, teladan orang-orang baik, dan rahmat Tuhan, ia dapat berubah menjadi “gandum”.
“Tuhan memberi kesempatan pada orang jahat untuk menyadari kesalahan dan bertobat. Tuhan tahu bahwa orang bisa berubah. Bisa terjadi, di masa depan ilalang berubah menjadi gandum,” ujarnya.
Jangan Menjadi Hakim bagi Sesama
Pesan tersebut sekaligus menjadi kritik rohani terhadap kecenderungan manusia yang terlalu mudah menghakimi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang pernah melakukan kesalahan kerap langsung diberi label, dijauhi, bahkan dianggap tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.
Padahal, iman Kristiani mengajarkan bahwa pertobatan selalu mungkin terjadi.
Bagi Pastor Pius, para pengikut Kristus tidak dipanggil untuk mengambil posisi sebagai hakim atas kehidupan orang lain. Panggilan utama seorang pengikut Yesus adalah menghadirkan teladan hidup yang benar dan menjadi jalan bagi sesama untuk menemukan kembali kebaikan.
“Pengikut Yesus dipanggil memberi teladan hidup benar, menuntun orang jahat agar bertobat, bukan sebagai hakim bagi sesama,” tegasnya.
Pesan ini menjadi sangat relevan dalam kehidupan sosial saat ini. Di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya seseorang menghakimi orang lain melalui kata-kata, termasuk di ruang digital, belas kasih dan kesabaran menjadi nilai yang semakin penting.
Menegur kesalahan tetap diperlukan. Membela kebenaran juga merupakan panggilan iman. Namun, memperjuangkan kebenaran tidak harus dilakukan dengan kebencian. Mengingatkan seseorang tidak harus berarti menghancurkan martabatnya.
Tidak Berkompromi dengan Kejahatan
Namun, kesabaran dan belas kasih Tuhan tidak boleh dipahami sebagai pembenaran terhadap kejahatan.
Pastor Pius mengingatkan agar manusia tidak berkompromi dengan kejahatan. Kebaikan harus tetap menjadi prinsip hidup. Yang salah tetap harus disebut salah, tetapi manusia yang melakukan kesalahan tetap memiliki peluang untuk berubah.
“Jangan kompromi dengan kejahatan, jangan juga tergoda menyingkirkan sesama yang bersalah dalam hidup,” pesannya.
Di sinilah letak keseimbangan pesan Injil. Orang beriman dipanggil untuk berdiri teguh melawan kejahatan, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan belas kasih kepada manusia yang sedang jatuh.
Sebab, setiap manusia memiliki kisah. Ada orang yang pernah tersesat, tetapi kemudian menemukan jalan pulang. Ada yang pernah jatuh, tetapi bangkit kembali. Ada pula yang membutuhkan seseorang untuk percaya bahwa dirinya masih bisa berubah.
Bila Hari Ini Menjadi Ilalang
Pada bagian akhir permenungannya, Pastor Pius menyampaikan pesan yang tidak hanya ditujukan kepada mereka yang merasa dirinya berada di jalan kebenaran. Pesan itu juga menjadi undangan bagi siapa saja yang menyadari dirinya sedang jauh dari Tuhan.
“Bila dirimu saat ini ilalang, bertobatlah menjadi gandum. Tuhan menunggu pertobatanmu.”
Kalimat sederhana itu menyimpan harapan yang besar. Tuhan tidak menutup pintu bagi manusia yang ingin kembali. Selama kehidupan masih diberikan, selalu ada kesempatan untuk berubah.
Pertobatan bukan sekadar penyesalan atas masa lalu. Pertobatan adalah keberanian untuk mengubah arah kehidupan. Dari yang salah menuju yang benar, dari kebencian menuju kasih, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dan dari kehidupan yang menjauh dari Tuhan menuju kehidupan yang kembali berakar pada-Nya.
Menjadi Gandum di Tengah Dunia
Perumpamaan gandum dan ilalang akhirnya bukan hanya berbicara tentang siapa yang baik dan siapa yang jahat. Lebih dalam dari itu, perumpamaan tersebut mengajak setiap orang untuk bercermin.
Mungkin hari ini seseorang merasa dirinya adalah gandum. Namun, apakah hidupnya benar-benar menghasilkan kebaikan bagi sesama?
Sebaliknya, mungkin seseorang merasa dirinya telah menjadi ilalang karena kesalahan masa lalu. Tetapi apakah ia bersedia membuka hati untuk berubah?
Pesan Pastor Pius Heljanan, MSC, mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah berhenti pada satu kesalahan atau satu masa lalu. Tuhan masih memberikan waktu. Tuhan masih membuka ruang. Tuhan masih menanti pertobatan.
Pada akhirnya, setiap orang dipanggil untuk menjadi gandum yang tumbuh dan menghasilkan buah kebaikan. Bukan dengan menyingkirkan sesama, melainkan dengan menghadirkan teladan, kasih, kebenaran, dan belas kasih.
Sebab, di hadapan Tuhan, manusia bukan hanya dinilai dari bagaimana ia memandang kesalahan orang lain, tetapi juga dari kesediaannya untuk bertobat, mengampuni, dan menjadi jalan bagi sesama untuk kembali menemukan harapan. (Rilis :joko)
Sumber refleksi: Pastor Pius Heljanan, MSC
Bacaan Injil: Matius 13:24-43












